Monday, September 5, 2011

Minyak Mentah Anjlok Tajam 3.8% di Sesi Asia


Selasa, 06 September 2011 10:50 WIB

Pada perdagangan elektronik hari ini harga minyak mentah melanjutkan penurunannya (06/09). Harga minyak mentah tergerus lagi seiring dengan timbulnya spekulasi bahwa ekonomi AS masih akan melemah. Kenaikan pasokan minyak mentah juga menjadi indikasi bahwa permintaan terhadap komoditas ini akan mengalami penurunan.

Harga minyak mentah membukukan penurunan tajam pada perdagangan hari ini jelang rilis data kinerja sector jasa di AS. Sektor jasa diperkirakan akan mengalami pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari satu tahun belakangan. Pasokan minyak mentah di AS terpantau mengalami peningkatan sebesar 2.4% pada tanggal 1 September lalu, dari tanggal 31 Agustus.

Harga minyak mentah berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Oktober mengalami penurunan sebesar 3.25 dolar (3.8%) dan ditransaksikan pada posisi 83.2 dolar per barel. Perubahan harga minyak mentah akan digenapkan pada perdagangan nanti malam karena tadi malam bursa saham dan komoditas AS libur untuk memperingati Hari Buruh.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah masih akan dipengaruhi oleh kondisi fundamental dan ekonomi global secara umum. Diperkirakan minyak mentah mentah Nymex masih akan bergerak pada kisaran 80 - 90 dolar per barel.

Harga Kakao Melemah, Pengiriman dari Indonesia Turun Selama Bulan Puasa


Selasa, 06 September 2011 09:30 WIB

Pada penutupan perdagangan di bursa NYSE London harga kakao berjangka membukukan penurunan (06/09). Penurunan harga kakao ini didorong oleh cenderung turunnya penjualan kakao dari Indonesia.

Penjualan kakao dari Indonesia mengalami penurunan sebesar 46% di bulan Agustus dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya permintaan coklat di masa Ramadhan dan Idul Fitri. Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Harga kakao berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Desember tampak mengalami penurunan sebesar 8 poundsterling (0.4%) dan ditutup pada posisi 1943 poundsterling (3129 dolar) per metric ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga kakao akan cenderung dipengaruhi oleh kondisi fundamental dari sisi permintaan dan penawaran. Sementara itu kondisi ekonomi global secara umum juga turut memegang peranan penting dalam penentuan pergerakan harga komoditas ini. 

Harga Gula Refinasi Masih Turun oleh Harapan Kenaikan Produksi Global


Selasa, 06 September 2011 09:00 WIB

Pada penutupan perdagangan di bursa NYSE London harga gula berjangka membukukan penurunan (06/09). Melemahnya harga gula disebabkan oleh trend melemah yang sedang melanda harga komoditas ini. Para pelaku pasar tampak melakukan aksi ambil untung sehingga memberikan tekanan pada harga gula.

Harga gula refinasi tampak mengalami penurunan seiring dengan tingginya produksi global. Produksi gula di Brazil dan India diharapkan mengalami kenaikan yang signifikan sehingga diprediksi tahun ini akan kembali terjadi surplus gula di dunia.

Harga gula refinasi untuk kontrak pengiriman bulan Oktober tampak mengalami penurunan sebesar 3 dolar (0.4%) dan ditutup pada posisi 750.80 dolar per ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga gula akan cenderung dipengaruhi oleh kondisi fundamental dari sisi permintaan dan penawaran. Sementara itu kondisi ekonomi global secara umum juga turut memegang peranan penting dalam penentuan pergerakan harga komoditas ini.

Kopi Robusta Turun Tajam oleh Kenaikan Produksi Vietnam


Selasa, 06 September 2011 08:30 WIB

Pada penutupan perdagangan di bursa NYSE London harga kopi robusta berjangka mengalami penurunan yang signifikan (06/09). Harga kopi robusta melemah hingga mencapai posisi tertinggi dalam tiga minggu belakangan di tengah spekulasi bahwa tanaman robusta di Vietnam mengalami peningkatan hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Vietnam merupakan produsen kopi robusta berjangka terbesar di dunia. Kenaikan produksi kopi robusta berjangka di Vietnam diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya peningkatan pasokan kopi robusta dunia sehingga harganya terdorong melemah.

Pasokan biji kopi robusta di gudang yang dimonitor oleh NYSE Liffe di London mengalami peningkatan ke level 398,090 metric ton pada tanggal 22 Agustus lalu, naik dari 217,670 metric ton pada tanggal 27 Desember lalu.

Harga kopi robusta berjangka untuk kontrak pengiriman bulan November mengalami penurunan sebesar 81 dolar (3.6%) dan ditutup pada posisi 2194 dolar per ton. Penutupan ini merupakan yang terendah sejak tanggal 10 Agustus lalu. ICE Futures tadi malam tutup untuk memperingati Hari Buruh.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga kopi robusta akan cenderung dipengaruhi oleh kondisi fundamental dari sisi permintaan dan penawaran. Sementara itu kondisi ekonomi global secara umum juga turut memegang peranan penting dalam penentuan pergerakan harga komoditas ini.